Feeling Thinking Action

Sabtu, 04 Juni 2011

SETU TUJUH MUARA BOJONG SARI atau SETU CAKRA CINANGKA

Setu Tujuh Muara (Setu Cakra)  - Sawangan

Salah satu alternatif berlibur menyenangkan untuk penduduk Jakarta dan Sekitarnya

Setu Tujuh Muara Bojong Sari, dahulunya lebih dikenal dengan dengan nama lain Setu Cakra Cinangka atau yang kini lebih populer dengan nama Setu Sawangan Golf.

Hampir setiap orang yang suka memancing di wilayah Selatan Jakarta dan daerah Depok Sawangan serta Tangerang Selatan, faham benar letak Setu tersebut. 

Lokasi Setu tersebut  tepat berada di belakang Perumahan Sawangan Golf &Golf Sawangan. Jalan menuju lokasi dapat ditempuh melalui beberapa alternatif jalan; jika diakses dari depok kita akan melelalui pasar kemiri untuk sampai di danau tersebut, alternatif jalan lain yang dapat kita tempuh adalah melalui pondok cabe atau perapatan cinangka (jalan Raya Ciputat - Sawangan - Parung),  atau melalui Sawangan & Golf Cottage jika kita akan menginap di cottage tersebut.Di jalur jalan cinangka - sawangan menuju RSUD Depok, sebelum tiba di Setu Cakra kita akan menemui sebuah lokasi perumahan yang sudah cukup ramai saat ini yaitu: Perumahan Telaga Jambu. 

Setu Cakra ini adalah sebuh Setu alam dengan tujuh muara, lokasinya yang sangat tepat dan strategis  berada di belakang Sawangan Golf dan Cottage, sehingga jika kita menginap di sawangan golf cottage atau kita bermain golf di lokasi tersebut maka kita akan melihat pemandangan asri nan hijau serta air danau yang jernih dari danau cakra tersebut. Keunikan lain dari Danau atau setu ini adalah terlihat dan terdengarnya suara deburan air dari lompatan - lompatan ikan Patin (Pangasius Catfish) pada jam - jam tertentu atau jam - jam   "ikan lapar" mencari makanan, khususnya pada saat matahari akan tenggelam dan pada saat matahari akan terbit, sampai menjelang tengah hari. Suara dan pemandangan ini sangat membuat penasarang para penghobi 'pancing alam' karena lompatan - lompatan ikan ini sangat nyata seperti bunyi orang jatuh kedalam air dari daratan ......untuk berenang. bummm.....Byurrrrrrrrrrrrrrrr.....................

Pada hari biasa maupun hari minggu disekeliling danau selalu saja ramai didatangai oleh para pengunjung yang memiliki berbagai kegiatan, yaitu untuk jogging, main sepeda, ada yang ingin sekedar iseng memancing, atau yang serius untuk memancing dengan mempersiapkan petromak untuk memancing semalaman, ada juga yang hanya sekedar jalan jalan sore menikmati asrinya sekitar danau, serta ada pula yang datang untuk melihat hiburan yang khusus ditayangkan pada hari hari libur seperti dangdut dan panggung terbuka.

Disekitar danau saat ini ada tersedia warung - warung pinggir danau yang sangat nyaman jika tertata rapi dan bersih. Lokasi sekitar danau ini jika bisa dikelola secara profesional dan tertata rapi menjadi salah satu lokasi yang representatif sebagai alternatif tempat wisata dan berlibur yang menyenangkan untuk seluruh keluarga.

Semoga apa yang saya lihat dan saya tulis ini dapat dinikmati sebagai alternatif tempat untuk menikmati hari libur yang saat ini masih sangat dibutuhkan oleh masayarakat Jakarta dan sekitarnya.

















Diposting oleh R. Yanti di 08.37 2 komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Danau Golf Sawangan, Setu Bojongsari Depok, Setu Cakra Sawangan

Senin, 07 Februari 2011

'The Heart of Sufism' by Hazrat Inayat Khan

Hati adalah gerbang TUHAN; begitu anda mengetuknya, jawabannya langsung datang.

Ada Tiga cara mencari TUHAN dalam hati manusia. Cara yang pertama adalah mengenal Ketuhanan pada setiap orang dan memahami setiap orang yang berhubungan dengan kita, dalam pikiran, perkataan, dan tindakan kita.Personalitas manusia sangat lembut. Semakin hidup hati, semakin sensitif ia;tetapi yang menyebabkan kesensitifan itu adalah unsur cinta dalam hati, dan cinta adalah TUHAN.

Lengkapnya silahkan baca di 'The Heart of Sufism' by Hazrat Inayat Khan


Diposting oleh R. Yanti di 07.59 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: inayat khan

Sabtu, 29 Januari 2011

Mau Jadi Apa Saya di Tahun 1432 H / 2011 M / ?????

Dear All,

Tahun Baru Hijriyah telah kita masuki, Tahun Baru Masehi telah kita awali dan beberapa hari lagi Tahun Baru Imlek 2562 akan kita masuki. 
Hal apapun yang telah kita lalui dan kita jalani di tahun kemarin tak akan bisa terulang kembali, jadi tak perlu disesali. Hal baru yang ada di depan akan kita lalui dengan seribu rencana dan kisah yang 'mungkin' bisa terjadi....ini lah sebuah awal yang harus kita mulai dengan Rasa dan Pikiran baru , darimana kita harus mulai ? Tanyakan pada diri kita:

1. To Be - Mau menjadi apa Saya di Tahun 2011 ini?
2. To Do - Apa yang akan Saya Lakukan di tahun 2011 ini?
3. To Have - Apa yang akan Saya harapkan didapat di tahun 2011 ini?

Dengan  mensetting kata awal atau kata kunci dalam diri kita sebagai panduan, maka dengan sendirinya Hati dan Pikiran kita telah menjadi satu untuk melaksanakan perintah awal yang secara sadar maupun tidak sadar menjadi file target dalam diri kita. Sehingga akhirnya Action/tindakan/perilaku yang terlihat nantinya akan mengarah ke panduan awal Hati dan Pikiran yang telah kita setting tersebut. Perilaku kita secara sadar maupun tidak sadar akan selalu menjalani apa yang telah menjadi main (setting) tersebut.
Hati dan Pikiran yang telah berada dalam satu garis lurus tanpa ada pertentangan itulah  Rahmat (positive result). Tetapi jika kita tetap action disaat Hati dan Pikiran kita belum berada dalam satu garis lurus maka, akan kita dapatkan rasa sesal dan kecewa (negative result).
Selamat beraktifitas dan selamat menformat diri kita untuk mampu menjalani 'Action' yang bernilai dalam kehidupan ini, dimulai dari Feeling - Thinking - Action (jangan terbalik atau dibalik). Selamat mencoba dan menjalani kehidupan di awal Tahun Baru ini.

Salam,
Yanti


 
Diposting oleh R. Yanti di 01.44 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Label: Action, Feeling, Thinking

Rasa Sejati

Belajar “Rasa Sejati lan Sejatining Rasa”

Judul Buku : Ajaran Rahasia Orang Jawa
Penulis : Capt. R.P. Suyono
Penerbit : LKiS
Cetakan : 1, Februari, 2008
Tebal : V+122 Halaman
Peresensi : Iqro' Alfirdaus

Ada pepatah yang mengatakan bahwa orang jawa nggone rasa. Artinya, hidup orang jawa berselimutkan rasa. Inilah salah satu indikasi bahwa orang jawa dalam segala sikap dan perilakunya rasa yang didahulukan. Rasa bisa dikatakan merupakan kulit danging. Maka, tidak salah kalau ada sebuah istilah raos rasa (rasa jawa). Yakni, suatu kesadaran hidup yang dilandasi oleh ke-jawa-an.
Orang yang hidupnya memelihara rasa, akan menanggung malu besar-besaran. Itulah sebabnya, olah rasa menjadi wajib dalam kehidupan Jawa. Seni olah rasa menjadi semacam ngelmu yang amat rahasia. Orang yang gagal mengolah rasa, hidupnya akan sia-sia. Karena orang tersebut menanggung beban rasa selama hidupnya.
Seni olah rasa yang sangat menggetarkan dalam praktik kehidupan kejawen adalah bawa rasa. Laku ini merupakan arena sakral untuk mengupas tentang rasa Jawa yang terdalam. Yang menjadi tonggak pembicaraan adalah adalah surasa, yakni rasa yang hebat. Rasa yang bernilai lebih, yakni rasa sejati dan sejatining rasa yang merupakan titik tolak ajaran kebijaksanaan orang Jawa.
Rasa sejati dan sejatining rasa adalah bangunan spiritual yang penuh makna. Orang yang tahu ini belum tentu mampu menghayati. Apabila hanya sekadar tahu kulitnya, atau bahkan salah memahami, hidupnya mungkin tak akan menggunakan rasa. Maka ada orang yang hidup yang sebenarnya tak hidup. Mereka hidup raga saja, rasa telah hilang. Mereka telah mati rasanya.
Dalam segala bentuk rasa akan berkibar. Rasa akan bercampur dengan keinginan, pikiran, dan hawa nafsu. Semua ini hampir sulit dipisahkan. Hanya bisa dibedakan ketika seluruh rasa itu lari dari rasa sejati dan sejatining rasa. Oleh karena itu, untuk memahami yang pelik ini perlu paham kejawen. Inti ajaran kejawen adalah puncak penghayatan mistik. Baik mistik maupun kejawen adalah dua hal yang tak terpisahkan dengan kebatinan Jawa.
Rasa sejati dan sejatining rasa tak dapat dikatakan. Kalau ada yang dapat menerangkan, itu hanya bersifat lahir. Sebab, rasa sejati dan sejatining rasa sebenarnya bersifat subjektif, tak terbatas. Mungkin hanya bisa dikatakan oleh seseorang yang benar-benar paham atas rasa. Rasa adalah amat rahasia. Ada pula yang menyebutnya rahsa. Antara keduanya sangat mirip. Keduanya amat halus, terkait sukma dan ruh. Pada saat rasa megalami kulminasi, baru sampai rasa sejati.
Dengan rasa sejati, orang Jawa dapat melakukan kontak langsung dengan kesetiaan rasa. Rasa sejati yang dapat menemukan sejatining rasa. Rasa sejati adalah kawasan batin dalam jagad emosi. Wilayah ini amat intuitif, yang menuntun rasa khadim, yang menuntun pribadi pada jenjang mistik tingkat tinggi. Tatanan ini realitas batin yang tenang menuju pada intinya.
Jika rasa sejati dan sejatining rasa telah diolah dengan halus akan memunculkan feelling. Yakni daya intuitif yang peka terhadap segala fenomena. Jika rasa mulur mungkret (membesar-mengecil) maka rasa sejati dan sejatining rasa tak kenal itu. Yang terakhir ini yang abadi, memomong rasa yang lain. Rasa lain yang amat kasar dibimbing oleh rasa sejati dan sejatining rasa menuju pada titik tertentu sesuai dengan nilai-nilai kemanusian dan ketuhanan. Karena rasa ini memadukan mikrokosmos dan makrokosmos hingga sampai pada tataran sukma sejati (ulmate of the soul).
Orang Jawa yang bisa memahami dan menghayati rasa sejati dan sejatining rasa akan menjadi man of ulmate truth, artinya manusia sejati. Dia itu sebagai jalma pinilih, istimewa atau sakti mandraguna. Karenanya, bukan tidak mungkin kalau dia akan tahu sadurunge winarah, maksudnya sebelum ada kejadian telah tahu apa yang mungkin terjadi. Dia sebagai jalma limpat semprapat tamat, tahu sedikit saja telah paham hal-hal lain yang lebih luas. Dengan berbekal rasa sejati dan sejatining rasa itu, yang bertindak dalam hidup tak sekedar dirinya, melainkan ada hembusan suara Tuhan.
Oleh karena itu, buku yang berada di hadapan pembaca ini sangat menarik untuk dibaca karena menjelaskan berbagai fenomena dan cara berpikir orang jawa yang bertitik tolak dari rasa sejati dan sejatining rasa sebagaimana di atas, hingga pada keyakinan orang Jawa mengenai paraning dumadi, yaitu asal-muasal manusia dan hendak ke mana setelah kematiannya. Yang kemudian dari ajaran ini, lahir fenomena khas orang jawa yang disebut klenik atau ilmu kesaktian, yang sampai saat ini masih diyakini dan dijalankan orang Jawa.
Dengan bahasa yang sangat sederhana, pembaca akan sangat mudah untuk memahami buku ini. Selain itu, penulisnya sangat jelas membeberkan bagaimana orang Jawa menjalankan ilmu kerahasiannya (rasa sejati dan sejatining rasa) ini dalam kehidupan. Akhirnya, buku ini bukan menunjukkan bahwa orang Jawa lemah-lembut dan sakti mandraguna karena ajaran-ajarannya, sebab orang Jawa sama saja dengan manusia lain yang berada di dunia ini. Ia bisa lembut dan kasar, salah dan benar, serta sakti mandraguna. Yang benar hanya kehidupan itu sendiri. Namun, kita akan mengenal bahwa ajaran orang Jawa berangkat dari rasa sejati dan sejatining rasa yang lebih mendambakan cinta.
Diposting oleh R. Yanti di 00.33 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Postingan Lebih Baru Beranda
Langganan: Komentar (Atom)

Pengikut

Mengenai Saya

Foto saya
R. Yanti
Lihat profil lengkapku

Arsip Blog

  • ▼  2011 (4)
    • ▼  Juni (1)
      • SETU TUJUH MUARA BOJONG SARI atau SETU CAKRA CINANGKA
    • ►  Februari (1)
      • 'The Heart of Sufism' by Hazrat Inayat Khan
    • ►  Januari (2)
      • Mau Jadi Apa Saya di Tahun 1432 H / 2011 M / ?????
      • Rasa Sejati
Tema Jendela Gambar. Diberdayakan oleh Blogger.